kejadian sebelum gempa melanda jogja..

Pertanda alam, atau dalam bentuk lain mungkin bisa berupa “sixth sense” atau “ngeng (rasa dalam bahasa jawa dengan dengung eng yang panjang) “ adalah anugerah yang diberikan Allah SWT untuk mengingatkan kita akan datangnya musibah atau bencana. Begitu juga ketika terjadi gempa dahsyat yang melanda kota Jogja dan sekitarnya pada hari Sabtu wage 27 Mei 2006 yang lalu. Beberapa teman mengalami hal-hal yang aneh dan bila dihubung-hubungkan bisa merupakan pertanda akan terjadinya bencana dahsyat itu.

 

Seperti yang dialami oleh sutris temanku yang rumahnya hanya 5 Km dari pusat gempa di daerah parangtritis. Sehari sebelum gempa melanda, sutris lebih suka tidur di luar rumah. Tidak tahu apa sebabnya perasaannya sangat gelisah. Berkali-kali ditengoknya anak dan isteri yang tertidur pulas. Nyala kipas angin kecil menimbulkan bunyi dengung yang disertai suara ‘tek-tek” membuat malam jadi terasa sangat panjang,  suara radio yang sedang menyiarkan wayang kulit dengan lakon semar mbangun kahyangan masih terdengar lirih dari kamar tidur mertuanya. Pelan sutris membuka pintu depan, jalan desa yang hanya diterangi lampu hemat energi terasa lengang. Angin malam terasa segar. Belum sempat sutris melangkah, terdengar suara kaki berlari dengan jumlah lebih dari satu orang. “Gemruduk…bung” katanya padaku. Dari jauh terlihat berbondong-bondong orang berlari. Sekilas seperti orang biasa, namun wujudnya yang berbeda, rata-rata mereka menggunakan busana persis manusia zaman purba, yang laki-laki rambutnya gondrong, sementara yang perempuan hampir semuanya telanjang dada. Mereka terlihat panik, banyak anak-anak kecil yang digendong orang tuanya bahkan ada yang diseret sambil berlari. Dengan ketakutan mereka menunjuk-nunjuk kearah pantai, suara mereka berdengung, riuh namun tidak jelas. Setelah itu mereka lenyap masuk kearah rumpun bamboo yang terletak 500 meter dari jalan besar. Sutris yang kami kenal pemberani itu hanya membathin “ akan ada apa ya…kok semua demit, genderuwo dan wewe itu pada pada ketakutan sambil menunjuk-nunjuk kearah pantai parangtritis kemudian mengungsi ke rumpun bamboo itu”. Sampai adzan subuh bergema, sutris tetap tidak bisa memecahkan teka-teki itu.

 

Di tempat lain, mas marsudi yang saat itu tinggal didaerah Imogiri juga merasakan hal yang sama. Malam itu, kambing-kambingnya pada mengembik gaduh. Takut terjadi apa-apa, mas marsudi keluar. Ditangannya tergenggam pukulan baseball dan lampu baterai 6 biji, mas marsudi kemudian mengontrol kandang kambing yang letaknya persis dibelakang rumah. Belum sampai ke kandang kambing mas marsudi mendengar suara tangis perempuan, hatinya bergetar. Karena malam itu menurutnya memang agak lain. Agak beringsang, namun sepi banget. Mas marsudi benar-benar merasa terganggu dengan suara tangisan itu, dan berniat mencari tahu siapa yang nangis itu, namun suara itu terus berpindah dan bergeser, bila didatangi dibelakang suara itu seperti terdengar dari depan, bila didatangi didepan seperti terdengar disebelah kanan , begitu seterusnya. Hatinya jengkel karena merasa diganggu suara-suara tangisan yang tidak berujung pangkal.  “masa bodoh kowe arep nangis sedino muput, nangis-nagiso (masa bodoh, kamu mau nangis sepanjang malam, urusanmu)” sungutnya sambil melangkah pergi. Suara tangisan itu tidak reda, malah bertambah kencang dan jumlahnya jadi sangat banyak. Seperti koor namun bukan lagu melainkan suara orang menangis. Mendengar suara itu mas marsudi jadi merinding, bulu kuduknya meremang hebat. Dengan bergegas mas marsudi segera meninggalkan tempat itu  “ kono nagiso sing sero, janji ora mangan wedusku wae (silakan kalau mau menangis, yang penting tidak mengganggu kambingku)” katanya sambil masuk rumah dan tidur lagi.

 

Beda lagi yang dialami dengan Ismet. Malam sebelum kejadian itu dia memutuskan untuk tidur diluar rumah. “panasnya minta ampun bung” katanya. Ya memang hawa malam itu luar biasa beringsang. Ismet tidak tahan tidur dirumahnya yang sempit itu. Kira-kira pukul 2 pagi dia bangun. Matanya dibelalakkan untuk mengusir ngantuk, ketika dari depan rumahnya terdengar suara orang berlarian, gedebag-gedebuk membangunkan orang tidur. Begitu dilihat dengan seksama, nampak empat orang laki-laki yang sedang berlarian, wajahnya tidak kelihatan karena tertutup kaos yang dinaikkan keatas. Melihat gelagat yang mencurigakan itu, Ismet langsung meraih pedang samurai pajangan yang ada teras rumah itu. Dengan bergegas dia mendekati rombongan laki-laki misterius itu. Setelah benar-benar dekat ismet kaget luar biasa, karena keempat laki-laki itu tidak menginjak tanah. Mereka hanya memiliki ujud tiga perempat saja, yakni dari kepala sampai paha saja. “demit elek…(hantu jelek), ngageti uwong wae, podo arep nong ndi kok begijikan ndak karu-karuan (mengagetkan orang saja, mau pergi kemana kok bikin kaget orang saja) “ katanya sambil  memandangi rombongan wong samar itu pergi menjauh.

 

Paginya tepat pukul 05.53 tiga Jogja diguncang gempa dengan 5,9 skala richter. Jerit tangis terdengar dimana-mana. Korban luar biasa banyak, 5.700 orang meninggal dunia, puluhan ribu lainnya luka-luka, ratusan ribu bangunan rusak parah. Sutris kehilangan bapak dan ibu mertuanya, Ismet kehilangan anak dan isteri, sementara mas marsudi selamat namun rumahnya hancur lebur. Aku sendiri yang ketika itu pas berada di Jogja juga merasakan dahsyatnya gempa itu, bumi terasa diguncang kekiri  lalu kekanan setelah itu keatas dan kebawah. Semua orang panik, dan berlarian persis paniknya orang-orang samar yang dilihat teman-temanku pada malam sebelum kejadian. Rumahku sendiri selamat, termasuk ibu dan saudara-saudaraku. Namun rumah tetanggaku banyak yang tidak utuh lagi.

9 Comments to "kejadian sebelum gempa melanda jogja.."

  1. dede's Gravatar dede
    22 November 2012 - 09.28 | Permalink

    Serem

  2. Ncut's Gravatar Ncut
    22 November 2012 - 09.45 | Permalink

    subhanallah,,

    dedemit dan hewan emang lebih sensitif ya mas?

  3. cayawz's Gravatar cayawz
    22 November 2012 - 10.30 | Permalink

    ih seru ceritanyah ^~^

  4. kamal adi's Gravatar kamal adi
    22 November 2012 - 13.33 | Permalink

    serem jg gan ceritanya, kasihan istri dan anaknya ismet tak terselamatkan,semoga semua korban bencana alamnya tenang disana

  5. mayang w.s's Gravatar mayang w.s
    22 November 2012 - 13.54 | Permalink

    subhanllah…

  6. RN's Gravatar RN
    23 Desember 2012 - 20.25 | Permalink

    Subhanallah, jadi teringat lagi peristiwa 6 tahun yang lalu, waktu itu saya juga sedang di Jogja (kegiatan study tour SMA saya), subuh sebelum kejadian saya juga merasakan sesuatu yang aneh, perasaan saya tidak enak, Alhamdulillah kami semua selamat, hotel tempat kami menginap juga cuma rusak ringan. Semoga semua korban jiwa diterima di sisi-NYA.

  7. Nelly's Gravatar Nelly
    9 Januari 2013 - 12.25 | Permalink

    Bahasane kog ky mas erry qu aee yooo …

  8. AdristY nOvatians saBikah's Gravatar AdristY nOvatians saBikah
    1 April 2013 - 22.19 | Permalink

    bener nee …a

Tulis komentar (Komentar akan di update setiap 6 jam)


*