Gunung Gede, cerita tiada akhir

Pendakian sebuah gunung tidaklah semudah yang kita lihat di dalam sebuah audio-visual yang bernama film, iklan, atau apapun itu bentuknya. Bahaya dan maut adalah ibarat rekan kita yang berdiri beriringan, yang kadang luput untuk ditampilkan dalam sebuah film, iklan, dan lainnya. Efeknya? Positif dan negatif. Banyak yang ingin menjaga dan melindungi, lebih mengenal alam Indonesia, dan banyak lagi alasan lainnya, itulah salah satu diantara sekian banyak efek positifnya. Di mana ada sesuatu yang positif tentu ada hal negatif yang mengikuti, begitu juga dalam kasus ini. Bertambahnya jumlah orang yang pada awalnya berkata ingin menjaga dan melindungi alam sering kali malah merusak alam dengan sampah bawaan dan kecerobohan mereka, kurangnya persiapan dan pengalaman ketika mendaki karena terpengaruh sebuah tontonan yang memperlihatkan ‘sisi mudah’ dari sebuah pendakian mengakibatkan hal buruk menimpa mereka juga merupakan sisi negatifnya.

Bukan tanpa alasan kenapa argumen ini aku kemukakan. Karena aku tahu bagaimana sulit dan bahayanya ketika sebuah pendakian itu dilakukan, tidak peduli gunung itu tinggi menjulang ribuan meter atau hanya setinggi 1500an meter saja. Kelengahan dan kecerobohan pendaki adalah fatal, tapi kadangkala kesiapan itu terganggu oleh hal-hal di luar nalar. Kali ini aku akan bercerita kembali tentang pengalaman mistis yang terjadi padaku ketika mendaki Gunung Gede-Pangrango yang memiliki ketinggian 2958 mdpl. Silakan disimak.

 

Siang itu aku baru saja selesai mempersiapkan hal-hal apa saja yang aku butuhkan untuk perjalanan atau lebih tepatnya pendakian yang akan kami, Komplek Sasbal, jalani besok. Ya! Komplek Sasbal. Sebuah nama yang aneh memang, tapi di dalamnya terselip makna persahabatan dari 10 orang yang memiliki kegemaran yang sama, yaitu mendaki gunung. 10 orang itu adalah aku, Aji, Sigit, Ojan, Edo, Danial, Arif, Ai, Intan, dan Kevin. Lalu apa makna dari Komplek Sasbal? Simple, seperti yang diketahui secara luas, komplek itu adalah sebuah tempat berkumpulnya orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda. Kemudian Sasbal adalah kependekan dari kata  ‘Sastra’ dan ‘Bala-bala’. Sastra karena kami adalah 10 orang mahasiswa sastra. Nama bala-bala atau Bakwan di daerah lain dipakai adalah karena kami tidak berasal dari 1 pengutamaan pendidikan sastra yang sama, aku dan Kevin adalah mahasiswa Sastra Inggris. Aji, Arif, Sigit, dan Ojan dari Sastra Arab. Danial, Edo, dan Intan dari Sastra Rusia. Terakhir adalah Ai dari Sastra Prancis. Itulah alasan kenapa harus bala-bala, karena bala-bala yang terdiri dari berbagai macam sayuran dan bahan bisa bersatu dalam 1 harmonisasi rasa yang dinamis, begitu juga kami. Kesimpulannya setelah penjabaran yang cukup panjang, Komplek sasbal adalah sebuah wadah yang menampung 10 bahan yang terdiri dari berbagai macam sastra dan dibalut 1 pengikat yang bernama pendakian gunung.

Komplek sasbal

Aku belum yakin akan apa yang telah aku persiapkan sebelumnya, sekali lagi aku memastikan apakah semuanya telah siap dan layak. Pakaian ada, makanan ada, sepatu ada, sandal ada, ternyata semuanya memang telah siap. Dengan sedikit malas aku masukkan kembali semuanya ke dalam daypack milikku. Tidak berapa lama Kevin yang sudah janji akan berangkat ke kosan intan untuk packing-pun datang. Tanpa banyak basa-basi kami segera memacu motor tua kesayanganku. Karena dekat, tidak memakan waktu lama sampai kami tiba ditujuan. Ternyata sudah semuanya berkumpul kecuali Ai yang datang sekitar setengah jam setelahnya. Seperti biasa langsung ku marahi dengan nada sedikit bercanda.

Agak sedikit lama kami habiskan untuk mengepak dan membagi barang ke dalam carrier. Hal tersebut karena diperlukan teknik khusus supaya nyaman ketika digendong dan dipakai berjalan di medan yang tidak bersahabat. Banyak pendaki-pendaki yang belum berpengalaman mengalami cedera punggung karena hal ini. Teknik tersebut sebenarnya sangat sederhana tapi dipelukan kecermatan supaya  rapi. Pertama matras yg dibentuk silinder dimasukkan ke dalam carrier sebagai pembentuk, menghindari bentuk carrier miring ke samping atau ke belakang. Setelah itu masukkan trashbag ke dalam carrier yang sudah memiliki tulang matras, tujuannya untuk membungkus barang-barang supaya terlindung dari basah. Kemudian paling bawah diisi oleh sleeping bag dan pakaian kemudian diatasnya diisi oleh barang logistik atau konsumi, tergantung apa yang dibawa. Biasanya setiap carrier membawa air mineral ukuran 1,5 lt 4 sampai 6 buah, semuanya disimpan di tengah carrier atau tepat di bagian punggung di atas pinggul yang bertujuan supaya beban yang dibawa tidak berat ke belakang.

Yak, semua carrier sudah selesai dengan isinya dan siap untuk dibawa menuju medan pendakian. Sialnya aku mendapatkan salah satu yang terberat. Tapi tidak ada alasan untukku menolak, selama mampu pasti tidak akan aku tolak.

Singkat kata 1 hari sudah terlewati dan hari ini adalah hari keberangkatan kami. Jam 4 sore adalah waktu yang ditentukan untuk berkumpul, seperti biasa salah seorang dari kami pasti ada yang terlambat dan membuat waktu keberangkatan menjadi mundur menjadi jam4 lewat, nyaris setengah 5. Jadi kira-kira kami sampai di terminal sekitar jam 5 sore. Untungnya sesampainya di sana bis tujuan Jakarta via puncak sudah ada, kamipun langsung menaikinya karena tujuan kami adalah Cipanas. Lebih tepatnya kami menuju pintu gerbang pendakian Gunung Gede via Gunung Putri.

Perjalanan Bandung-Cipanas terasa lama sekali, seakan bis ini berjalan di dimensi waktu yang berbeda dari lingkungan luar. Waktu serasa diperlambat, entah karena aku sendiri yang sedang merasa pusing waktu itu, dan juga lapar yang sangat. Sial dan beruntung kali ini, sial karena bis yang kami tumpangi ngetem di Cianjur, beruntung karena aku bisa mengganjal perutku. Setelah itu, anehnya waktu seperti biasa kembali, normal. Tanpa terasa akhirnya sampailah kami di pasar Cipanas, selangkah lagi kami sampai di Basecamp Putri.

Untuk mencapai pos Gn Putri mutlak dibutuhkan sebuah kendaraan karena letaknya yang jaug di atas lagi. Pilihan satu-satunya waktu itu hanyalah menyewa angkot untuk mengantarkan kami. Angkotpun di dapat dan perjalanan kami bisa dilanjutkan. Guncangan angkot karena jalan yang kami lalui hanya aspal yang berlubang-lubang membuatku harus ekstra hati-hati menjaga barang supaya tidak berantakan. Hal itu yang menyita konsentrasiku sampai hampir melewatkan pemandangan menakjubkan yang menghampar. Titik-titik cahaya lampu menghampar di dataran di bawah kami, luas dan lebar pandangan kami saat itu. Ternyata kami sudah berada cukup tinggi sehingga bisa melihatnya. Aku jadi membayangkan apakah pemandangan indah ini masih bisa dilihat dari pos. Pertanyaanku itu tak perlu waktu lama untuk terjawab, kami sampai di pos Gn Putri dengan pemandangan indah yang masih menghampar. Tapi kami harus segera menuju basecamp dan menyimpan barang, jadi aku segera beranjak.

Kami tiba di basecamp yang ternyata lebih mirip rumah singgah milik warga lokal. Ternyata memang seperti itu, pendaki diborlehkan menggunakannya selama ia jajan di warung milik penjaga basecampnya. Tidak masalah menurutku, sama-sama untung. Suasana di dalam basecamp ternyata sudah ramai oleh rombongan pendaki SMA dari Jakarta yang sedang melakukan pendidikan dasar. Kami harus berbagi tempat untuk tidur.

Esoknya aku terbangun karena kegaduhan rombongan tetangga kami yang bersiap hendak naik lebih dulu. Sedikit malas aku bangun untuk solat, tapi namanya juga kewajiban. Setelah itu kami sarapan dan segera bersiap berangkat. Sebelumnya kami terlebih dahulu berdoa meminta keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Doa ditutup dengan amin menandai awal perjalanan yang akan ditempuh.

1 jam, 2jam telah kami lalui. Pos per pos kami sambangi. Sampai tidak terasa kami sudah berjalan hampir 8 jam lamanya namun belum ada tanda-tanda sampai ke pos terakhir sebelum puncak yaitu alun-alun Surya Kencana atau akrab disebut Surken oleh pendaki. Perjalanan yang kami lalui terlalu lama, normalnya untuk mencapai Surken hanya perlu memakan waktu sekitar 5-6 jam saja. Yah, wajar sih karena sebelumnya kami sempat mebuat bivak untuk berlindung dari hujan sehingga banyak waktu terbuang.

1 jam kemudian terdengar teriakan dari Edo yang memang berjalan di depan, “SAMPAI!” teriaknya. Serempak semua orang seperti mendapat energy ekstra yang meledak-ledak, kami bisa berlari karena keinginan untuk segera sampai mengalahkan rasa lelah kami.

Subhanallah, begitu aku melewati tirai pohon terahir, pemandangan luas membentang dengan ratusan bahkan mungkin ribuan pohon Edelweiss yang sedang berbunga. Suasana kontras sangat terasa antara warna padang rumput coklat dengan Edelweiss yang putih, kontras namun sungguh indah dipadu hijaunya gunung dan abu-abu dari kabut. Suasana indah ini sayangnya tidak bisa kami nikmati lebih lama karena hari mulai gelap dank abut mulai turun. Intinya kami harus segera sampai ke sudut Surken lain untuk mendirikan tenda. Jaraknya sekitar 2-2.5 km, cukup membuat rasa sakit di kaki kami makin menjadi.

Alun-alun Surya Kencana

 

Hari sudah gelap ketika kami mencapai ujung Surken, aku memperkirakan waktu sekitar pukul 18.30 wib. Untuk berlindung dari angin kami harus mencari tempat yang agak tertutup, pilihannya adalah di pinggir hutan dan lembah kecil. Akhirnya lembahpun dipilih, selain karena di sana sudah ada beberapa tenda juga lebih aman dari binatang buas.

Singkat cerita tenda sudah terpasang, dan makan malam sudah selesai, dan kamipun pergi tidur. Sialnya aku terbangun karena mulas, kulirik jam menunjukkan jam 2 malam. Aduh kenapa ini, pikirku. Sebelumnya padahal aku sudah minum norit untuk mencegah perut mulas, tapi nampaknya tidak berguna. Dari dalam tenda aku bisa merasakan betul bahwa angin sedang bertiup dengan kencangnya, derunya saja sampai terdengar seperti pesawat tempur. Aku lihat sekeliling tenda dari dalam mencari sumber cahaya berasal dari lampu cempor darurat dari botol yang kami bawa sudah tidak ada. Mereka padam. Tapi ..ah perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ku ambil senter dan bergegas keluar. Masya Allah, dingin sekali, aku segera masuk kembali dan meminjam pengukur suhu milik Aji yang menunjukkan 5 derajat celcius. Aku kembali keluar tenda sendirian dengan hanya berbekal senter dan sandal jepit saja. Di luar angin sangat kencang sekali, seandainya tenda didirikan bukan di hutan atau di lembah sudah pasti tenda ini terbang. Aku menengok ke arah kanan, di sana terdapat sungai dari mata air dan beberapa tenda di tepiannya. Ku lihat ke kiri hanya tanjakan tempat kami turun. Kuputuskan menyusuri tanjakan tersebut dan menuju ke hutan yang tepat berada di bawah puncak Gede. Dengan susah payah aku susuri tanjakan itu, begitu sampai di akhir tanjakan nyaliku seakan ciut melihat hutan di kejauhan. Aku sendirian di padang itu, angin buas menerpa dari kananku, suara siulan terdengar karena angin menerpa lekuk-lekuk tubuhku. Begitu menatap hutan itu bayangan-bayangan buruk bergelayut dipikiranku, bagaimana kalau ada macan kumbang, bagaimana kalau aku diculik lelembut, dan berbagai kemungkinan yang pernah terjadi terhadap pendaki yang pernah aku baca. Tanpa sanggup memikirkan lebih jauh, aku segera berbalik arah menuju tenda dengan setengah berlari.

Aku sampai di tenda dan segera masuk, ternyata Sigit terbangun, syukurlah. Tanpa basa-basi aku langsung minta antar sigit ke mata air untuk BAB, dia menyanggupi. Langsung saja aku buka celana di dalam tenda hingga tinggal celana dalam saja, menghindari celana ketinggalan pikirku. Hanya beberapa langkah untuk mencapainya. Aku segera mengambil posisi agak turun tepat di bocoran mata air yang mengalir. Posisiku saat itu membelakangi tenda dan menghadap ke dinding bukit di depan mata air. Di sebelah kiriku adalah bukit kecil, di kananku adalah semak-semak. Posisi sigit saat itu dekat semak, dia bilang ingin kencing. Aku memberinya instruksi supaya jangan kemana-mana, oke katanya. Akupun dengan tenang melanjutkan acara yang sedang ku lakoni. Rasanya makin sepi, dan aku merasa sendiri. Akupun memanggil Sigit, tapi tidak ada jawaban. Sialan, Sigit ninggalin.

Sepeninggalnya Sigit memang terasa sepi dan menyendiri, sementara saja. Saat itu aku sedang memandangi air yang mengalir dengan menyenterinya dengan flashlight, tapi kok aneh ya sepertinya suasana bertambah terang. Sudah pagikah? Tidak mungkin, tadi aku keluar jam 2 pagi masa sekarang sudah menjelang pagi lagi. Sedikit ku angkat kepalaku ternyata memang benar agak terang. Terangnya aneh, aku susah menjelaskan bagaimana terangnya itu, seperti terang namun gelap. Cahayanya kemerahan seperti matahari pagi. Hanya sekelilingku yang terang, sekelilingku? Tidak, ternyata bukit di sebelah kiriku juga. Saat itu aku tidak mungkin lari, karena hajatanku belum selesai. Hanya bisa menunduk. Semakin lama aku diam, hawa yang aku rasakan semakin berat. Ya Allah, tolonglah hambamu ini, tangisku dalam hati. Aku tidak peduli lagi dengan hajatanku, segera aku membersihkan diri dan memakai CD, setelah itu aku dongakkan kepalaku ke puncak bukit itu. Begitu mataku menangkap puncak bukit yang ternyata adalah sumber dari cahaya kemerahan itu, dan cahaya aneh tersebut bersumber dari seorang lelaki. Ya, Lelaki kekar berambut gondrong yang memakai pakaian seperti terbuat dari kulit, entah kulit apakah itu. Logikaku secara otomatis mengatakan bahwa itu bukan manusia dilihat dari pakaiannya dan ukuran tubuhnya yang sekitar 2 kali besarnya manusia modern. Aku tertegun beberapa lama, antara kagum dan takut. Hatiku terus bertanya berharap ada jawaban. Ternyata nihil. Dengan sedikit terbata aku mengucapkan maaf dan salam. Aku segera berjalan dengan lemas menuju tenda, aku menengok dia masih ada. Sekali lagi aku berbisik maaf dan memasuki tenda tanpa menengok ke belakang lagi. Aku segera beranjak tidur tanpa berbicara lagi, doa meluncur deras dari mulutku sampai tertidur.

Jam 7 pagi aku terbangun, masih teringat dengan jelas kejadian semalam, tapi aku tidak terlalu memikirkannya karena aku sadar ini masih di atas gunung. Tidak baik berpikiran yang aneh-aneh. Beberapa waktu setelahnya semua perlengkapan sudah terbungkus rapi dan makanan untuk sarapan sudah tersedia Tinggal tenda saja belum kami bongkar, rencananya setelah sarapan. Jam 9 pagi kami sudah siap dan rapi berangkatlah kami. 1 jam kemudian sampailah di puncak. Rasa syukur dan takjub begitu terasa ketika menyadari diriku berada di puncak, Alhamdulillah setengah perjalana sudah dilalui. Sayangnya suasana puncak sedikit gelap oleh kabut dan sedikit mendung. Untuk mengabadikan momen indah ini kamipun sempat berfoto dan berniat melanjutkan setelahnya, tapi niat kami terhalang oleh hujan deras yang menahan kami hampir 2 jam lamanya.

Sekitar jam 1 siang barulah kami bisa melanjutkan, itupun masih sedikit diguyur hujan rintik-rintik. Kami terpaksa harus tetap jalan karena persediaan makananan sudah tidak memungkinkan untuk menambah hari lagi, maka dari itu kami harus bergegas. Target pertama kami adalah mencapai Pos Kandang Badak. Tidak seperti namanya, di sini tidak terdapat 1 ekor badakpun. Aku sendiri belum tahu alasan dibalik penamaanya. Yang pasti pos ini cukup luas untuk menampung puluhan tenda, dan merupakan pos persimpangan trek Gede dan pangrango. Kami mencapai pos ini sudah cukup sore, sekitar pukul 4-set 5 sore, aku tidak begitu tahu pasti karena hp kusimpan di dalam carrier.

Tidak lama waktu yang kami pakai untuk beristirahat di kandang badak, hanya minum dan sedikikt snack untuk mengganjal perut.

Kami berjalan, berjalan, dan berjalan tanpa memikirkan rasa lelah. Terutama aku, perjalanan pulang kali ini aku dan aji memimpin di depan. Aku berinisiatif karena hari mulai gelap dan salah satu teman kami yaitu Arif asmanya kambuh, otomatis langkah kami agak tertahan. Aku dan Aji berjalan agak cepat di depan, mencoba menyisir jalan untuk menghindari bahaya terkaman binatang yang menyerang dengan memanfaatkan malam. Hal itu terus kami lakukan sampai kami mencapai sebuah turunan kea rah kanan dengan pohon seperti palem di tengahnya. Dari jauh aku perhatikan kenapa pohon palem ini seperti memiliki akar gantung layaknya beringin di atasnya. Semakin lama kami semakin dekat dengan pohon itu, sesampainya…ternyata itu adalah kepala seorang pria berambut gondrong. Kepala itu berputar begitu aku berada sangat dengannya. Begitu jelas terlihat kerutan di dahinya, seringai di bibirnya dan keriput di matanya. Aku bisa menerka usia kepala itu mungkin seperti manusia berusia 45-50 tahun. Aku segera beristigfar mencoba untuk tidak mengosongkan pikiran akibat kejutan tersebut. Aku kembali tersadar ketika Aji menegur dan mengajak jalan kembali. Dengan sedikit terbata aku bilang “Ji, tadi…”  Belum sempat aku teruskan Aji sudah menimpali kalau dia juga tau ada yang tidak beres di pohon itu, Cuma dia hanya bisa merasakan dan tidak bisa melihat. Kami memilih diam sampai pos berikutnya. Di pos ini terdapat semacam tempat berlindung lengkap dengan atapnya. Kami tidak masuk ke dalamnya hanya duduk di batang kayu di depannya. Waktu itu aku duduk menghadap ke arah pos itu tepat di depan bolongan seperti jendela belakang. Aku terkesiap karena tersamar diantara gelapnya pepohona sebuah mata dan mulut yang menyeringai. Mata tersebut menatap nanar padaku. Aku hanya bisa diam mencoba tidak panic, karena berbahaya sekali kalau panic di dalam hutan di malam hari. Setelah cukup beristirahat aku mengajak kembali berjalan. Tapi selama perjalanan aku tidak bisa tenang, nampaknya mahluk itu mengikuti. Aku dengan samar kadang melihat sekelebatan bayangan diantara pohon-pohon yang terkena sinar dari senterku. Tenang..tenang, aku mencoba menenangkan diri. Lama kemudian, kami mencapai pos terakhir sebelum pintu keluar yaitu pos curug. Pos ini sama seperti sebelumnya di lengkapi tempat berlindung yang lebih besar disbanding sebelumnya. Kami memasukinya untuk mengisi tenaga. Posisiku saat itu membelakangi lubang seperti jendela itu lagi. Dengan jelas aku bisa merasakan dengusan nafas mahluk itu, berat dan basah. Saat itu juga radarku menangkap dengan jelas wujudnya yang sering digambarkan di tv sebagai genderuwo.

Aku tidak tahu apa yang diinginkannya, dan meskipun aku tahu tidak akan aku kabulkan. Awalnya kami berniat memasak mie rebus, tapi kuberi alasan kalau waktu memasak mie itu lama hanya akan membuang waktu dan panas tubuh. Alasanku diterima sehingga mie tidak jadi direbus tapi dimakan mentah. Acara makan selesai, aku menengok genderuwo itu sudah tidak ada.

Perjalanan pulang menuju gerbang sekitar 2,8 km lagi, dan harus melewati rawa gayonggong dan telaga biru yang wingit. Meskipun suasana sangat gelap karena sudah malam. Aku dengan jelas bisa melihat bayangan-bayangan orang seperti sedang berlalu-lalang di atas rawa. Pakaian mereka sama, semuanya berwarna putih. Saat itu sempat terbersit di pikiranku kenapa mahluk halus mayoritas selalu berbaju putih, tapi ah sudahlah tidak penting. Rawa gayonggong terlewati dan kini kami meuju telaga biru. Masya Allah, di sana memang terdapat beberapa kuntilanak dengan wajah buruk namun ada juga beberapa penampakkan seperti putri cantik. Aku tidak mempunyai waktu untuk mengaguminya, kami harus segera keluar dari hutan ini.

Ditengah suasana suram tim kami, Intan tiba-tiba berkata “cahaya neon.” Rasa senang dan lega kami rasakan, seolah kami baru saja keluar dari ruangan sel yang berisi orang-orang sakit jiwa. Memang benar, tidak berapa lama kami sampai di pos pemeriksaan di Cibodas. Setelah melapor kami segera turun menuju basecamp Cibodas untuk membersihkan diri, makan dan bersiap untuk pulang. Tentu saja kami pulang setelah berfoto.

Sebuah pendakian yang ditonton di sebuat tayangan film sering membuat penontonnya menjadi ingin mencoba, tidak masalah memang. tapi setidaknya harus siap menghadapi hal-hal yang sudah diceritakan.

28 Comments to "Gunung Gede, cerita tiada akhir"

  1. Ncut's Gravatar Ncut
    24 Desember 2012 - 05.47 | Permalink

    serem minta ampun…

    • Ncut's Gravatar Ncut
      25 Desember 2012 - 23.16 | Permalink

      kurang penampakannya, hahaha…

    • urs4's Gravatar urs4
      26 Desember 2012 - 00.20 | Permalink

      kurang finishing nya kali kang. gmn tuh crt nya dr tmn2 akang yg lain?

    • Ncut's Gravatar Ncut
      26 Desember 2012 - 06.01 | Permalink

      harus ada yg gereeeeeeeeettttt gitu brada :D

  2. Dewi Asriani's Gravatar Dewi Asriani
    24 Desember 2012 - 06.13 | Permalink

    keren ka ceritanya… syukur gk ada yang nampakkin pas di depan mata banget ya ka hehehehhe…

  3. Rika's Gravatar Rika
    24 Desember 2012 - 06.17 | Permalink

    Ternyata mendaki gunung sangat susah ya… Btw, semuanya keren,,

  4. kamal adi's Gravatar kamal adi
    24 Desember 2012 - 06.19 | Permalink

    serem gan ceritanya,klo lewat trek gunung putri berat, mending dari cibodas awalny

    • kamal adi's Gravatar kamal adi
      27 Desember 2012 - 11.42 | Permalink

      pengen banget gan naik lg, tapi sayangnya ane udah punya buntut, ya jadi gitu deh mencak2 bininya klo ane ikut naik lg,he5x,tp ada rencana naik ajak anakny klo udah sekolah, adventurenya gan sama adrenalinnya bikin kangen bgt

  5. kha akmelia's Gravatar kha akmelia
    24 Desember 2012 - 07.26 | Permalink

    hiking really z udh cpe pa lg kl naik gunung? wah kykx q gk bkalan kuat tuh,tp kdang trgiur jg pngen lihat pemandangan

  6. rizki's Gravatar rizki
    26 Desember 2012 - 11.54 | Permalink

    kurang itu kang….waktu mas lagi bab kan ditinggal arif, trus arifnya kemana katanya

  7. @almanzm's Gravatar @almanzm
    11 Februari 2013 - 21.24 | Permalink

    SssEeeerrrrrUuuuuuuuu certanya
    Jadi inget pendakian pas wktu SMP

  8. yanty's Gravatar yanty
    13 Februari 2013 - 22.54 | Permalink

    serem pol

  9. yosefa's Gravatar yosefa
    9 Mei 2013 - 12.25 | Permalink

    Iya nich, aku jg senang petualang naik gunung. Seru bgt. Msh penasaran sm cerita yg di gunung rakutak tu lo kak septata.

  10. rama's Gravatar rama
    11 Mei 2013 - 16.04 | Permalink

    Wah hampir sama kang caritanya, kalo saya akhir 2012 kemarin diikutin sama si UWO itu dri pos ke 3 jalur putri sampai alun2 timur surya kencana.. Semoga ada hikmah dan pelajaran dr semua ini ya kang . Salam lestari ! :)

  11. zera's Gravatar zera
    20 Juni 2013 - 19.21 | Permalink

    low boleh tau si UWO tuch apaaa????

  12. 7 Juli 2013 - 16.51 | Permalink

    tulisannya menarik Kang, seperti ikut kebawa dalam suasana Mountain Adventure plus uji nyali uka-uka…

  13. 11 Agustus 2013 - 11.00 | Permalink

    Lagi kesemsem sama cerita2 mistis pendakian
    Nyampe ke blog ini :)
    Gambarnya ga muncul kenapa ya??

    • Cut's Gravatar Cut
      11 Agustus 2013 - 11.22 | Permalink

      Harap dimaklum karna web nya lagi dlm perbaikan hehhee.. oh ia kl mu baca tentang mistik pergunungan. silahkan klik nama penulis nya saja. mas septapa ini slalu menceritakan pengalamannya saat mendaki. nanti stelah di klik nama penulisnya, pasti akan muncul daftar semua tulisannya :)
      oh ia, selamat bergabung bersama kami.

  14. Ida Ismael's Gravatar Ida Ismael
    13 Juni 2014 - 15.12 | Permalink

    Halo dik Septapa, salam kenal!
    Saya dan teman2 sekantor tgl. 23-25 Mei 2014 lalu juga baru aja dari Surken-Gunung Gede. Total dari kantor ada 13 orang hikers, plus 4 orang sepupu teman kami.
    Salah satu teman saya juga melihat penghuni Surken-G. Gede, mulai dari Gunung Putri sampai keluar di Cibodas. tapi dia ceritanya ke kami baru beberapa minggu setelah kami kembali dari sana.
    Yang lebih top lagi, pas lagi camping di Surken, kira2 jam 9 malam dia pingsan. Saya dibangunkan teman2, berhubung saya yang bertanggung jawab untuk P3K. Untung saya bisa CPR, sehingga teman saya akhirnya bisa siuman lagi.
    Ternyata menurut teman saya ini, macam2 deh mahluk alam lain yang dia lihat disana. Ada perempuan berambut panjang yang mengikuti rombongan, ada laki2 yang hanya naik-turun satu pohon saja, ada satria berkuda nan ganteng di Surken, ada perajurit yang menjaga sepanjang jalur naik dari Gunung Putri ke Surken, ada juga perajurit yang suka mengendap-endap di balik batu. Si cewek berambut panjang katanya mengeluarkan hawa dingin seperti hawa kulkas. Malah di jembatan Rawa Gayonggong, ada mahluk yang tampilannya seperti hikers umumnya, yang ‘membantu’ mengangkat beban carrier salah satu teman sehingga terasa lebih ringan!
    Syukurlah, saya tidak punya ‘talenta’ untuk melihat mahluk2 ini. Entah apa yang akan saya perbuat seandainya bisa.
    Menurut teman lain yang veteran hiker, bisa jadi pingsannya teman saya ini adalah bentuk gangguan dari mahluk2 gaib yang dia lihat.

Tulis komentar (Komentar akan di update setiap 6 jam)