Ya! Kamu saja!

Sebuah cerita mengenai mistik. Kali ini dengan Tia.

Ya! Kamu saja yang ikut!

Dan ya, kejadian akan diubah sedemikian rupa.

NB : Jangan percaya pesan diatas, cerita ini 99,9999,999% fiksi.

“Tia, dia masih disana?”

“Masih.”

“Ngapain?”

“Meletin lidah di depan pak guru.”

“Oh…”

Ada apa ini?

“Ada Ririn makan ati, ada Kevin Semprulio, ada Titi Kumal,” teriak seorang penjual koran terdekat. Baik, acuhkan saja penjual koran tadi.

“Bisa ceritakan ulang wujudnya?”

“Anak kecil. Bajunya compang-camping. Rambut acak-acakan kayak Dora kena puting beliung. Celananya selutut. Mukanya berdarah-darah.” Jelas Tia panjang x lebar x tinggi. Oh, tunggu. Itu rumus volume balok.

“Hm…” dan Tia kembali membuat sketsa ondel-ondel di sebuah kertas. A-apa, ondel-ondel?

Ya. Kalong dan Tia mendapat tugas menggambar dengan tema kebudayaan bangsa Indonesia. Ngomong-ngomong tentang bangsa Indonesia, tepuk tangannya mana?

Proook! Prok! Prok! Prok!

Nah, gitu dong! Cinta sama tanah air!

Sementara Kalong? Coba tebak, apa yang Kalong gambar?

Yoko? bukan. Upin-Ipin? Bukan. Mr  Bean? Bukan. Orang menari?

Wah, anda cenayang.

Biar diperjelas lagi. Dalam sebuah kelas bernama kelas 3F, semua siswa pengikut aliran sesat, ehm maksudnya saset, ehm maksudnya Eyang Subur, ahk maksudnya ekstrakulikuler melukis tengah mengadakan sebuah kegiatan bernama menggambar. Dan di kelompok siswa tersebut, seorang siswi berinisial Tia Panjaitan yang memiliki kemampuan melihat hal tak kasat mata tengah dirundung gelisah melihat sesuatu di hadapannya, ea…

“Memangnya ini lagu coboy junior?” komentar Tia.

Seperti dialog Tia tadi. Wujud bocah petualang, maksudnya bocah tak kasat mata itu memakai kaos hitam compang-camping, rambut acak-acakan, celana putih selutut, dengan telapak kaki hilang dan wajah berdarah-darah. Dan, apa tadi kegiatannya?

“Memeletkan lidah didepan guru!” he-hei, si-siapa yang men-menjawab???

“Kalong, Kalong!” Tia berbisik, namun keras.

“Apa lagi?” sial. Karena bisikannya yang terlampau dekat kuping, tercorenglah gambar Kalong yang berseni tinggi. (baca : rendah).

“Itu, anaknya melayang-layang!” Tia menunjuk ke atas.

“Eh, iya Tia! Aku lihat!” ucap Kalong.

“Oh ya?”

“Ciyus! Mi kadaluarsa!”

“Melayang di dekat mana?”

“Tuh, di tembok, kan!?”

BLETAK! Kalong ditimpuk dengan piring makan.

“Itu mah cicak!” Tia misuh-misuh tak jelas.

“Ya, anak-anak. Untuk lomba seni lukis, sudah ada kandidatnya.” Ucap sang guru sambil menunjuk seorang siswi yang akan mewakili sekolah dalam lomba melukis. Siswi itu menebar senyum.

“Akh, silau!” komentar Kalong saat melihat giginya terpantul cahaya matahari.

“Nah, sekarang untuk seni kriya. Siapa yang bisa membuat seni kriya?” tanya sang guru. Panggil saja, pak Sudar.

Kriiik kriiik…

Tentu saja tidak ada yang bisa. Mereka semua, kecuali Kalong kan ahli menggambar.

“Ya sudah, hari sabtu coba dikumpulkan bagi yang bisa.” Ucap pak Sudar.

“Kalong!” kembali Tia berbisik.

“Apa lagi?” Kalong memakai bando tanduk kelelawar. Agar Tia tau bahwa akan ada sebuah game baru dari ROVIO bernama ‘Angry Kalong.’

“Setannya melayang di atas kepalamu!”

“Uapha!?” Kalong berdiri. Dan semua orang memandang Kalong dengan tatapan seolah berkata ‘Kau mau menjadi tumbal untuk lomba seni kriya ini?’ kepada Kalong.

“Ya?” tanya pak Sudar. Kalong garuk-garuk kepala.

“Permisi pak, ke kamar mandi…” Kalong kabur dah.

-.-.-

Kalong kembali. Menuju bangku, dan duduk. Ya, tentu saja duduk. Memangnya mau apa? Tidur?

“Kalong!” Tia memanggil Kalong lagi. Dengan kecepatan 3×108 m/s Kalong memakai sepasang soflens berwarna merah dan kemudian memelototi Tia.

“Apa lagi…?”

“I-itu, setannya bawa temen perempuan.” Ucap Tia sambil menunjuk ke depan.

Kosong…

“Ciri-cirinya?” tanya Kalong kepo sambil melepas kontak lens.

“Kayak kuntilanak… hi… Kalong! Gimana caranya biar aku ga bisa ngeliat yang begituan lagi!?” tanya Tia frustasi sambil mengguncang-guncang bahu Kalong kedepan dan kebelakang seperti  senam poco-poco. Kalong hanya mampu sweatdrop.

“Aku tak tau…” ucap Kalong.

“Ya, anak-anak. Siapa yang bisa membuat seni kriya?” tanya pak Sudar memastikan. “Seperti membuat pahatan mungkin?”

“Tia, kenapa kamu tidak bersyukur kalau kamu bisa melihat yang begituan?” tanya Kalong.

“Serem tau!” Tia misuh-misuh tak jelas. Kalong kembali membuat sketsa. Namun, samar-samar bayangan mendekat kearah meja Kalong dan Tia.

“Ya, siapa yang bisa membuat sendera mata?” tanya pak Sudar, lagi.

“Tia, kamu kan bisa ngeliat yang begituan. Coba, lihat di depan.” Ucap Kalong. Tia melirik ke depan dengan malas.

“Aku memang bisa ngeliat…”  Tia membulatkan matanya.

1 detik…

2 detik…

3 tahu, 3 detik…

“AKU BISA! AKU BISA!” ya, latah Tia kumat. Semua siswa memandang takjub kearah Tia.

“Ya, baiklah, Tia Panjaitan! Kamu saja yang ikut!” ucap pak Sudar.

“Eh, eh, kenapa?” tanya Tia polos. Kalong garuk-garuk kepala.

The End… *dengan GaJenya*

15 Comments to "Ya! Kamu saja!"

  1. linda's Gravatar linda
    30 April 2013 - 15.29 | Permalink

    wkwkowow

    kalongggg lucu!!
    *pelukkalongcubitpipinyapakejepitangorengan

  2. k1za's Gravatar k1za
    30 April 2013 - 16.11 | Permalink

    kalong, selamat anda telah jadi tersangka atas kasus menjebak Tia untuk mengikuti acara lomba Kriya *ala bung rhoma*

    • k1za's Gravatar k1za
      30 April 2013 - 16.43 | Permalink

      bohong !! angkat tangan..
      goyang kiri kanan ! mari kita bergoyang !
      begadang jangan begadang.. ‘terlalu’
      tarik maanngg :D

  3. wahyu na's Gravatar wahyu na
    30 April 2013 - 16.16 | Permalink

    wah jadi kalo kalong marah jadi juubi ya,,*panggilrikudousennin*

  4. kamal adi's Gravatar kamal adi
    1 Mei 2013 - 06.41 | Permalink

    lucu jg sis ceritanya, kasihan jg tianya dikerjain

  5. 1 Mei 2013 - 11.29 | Permalink

    lagi2 Tia jadi pemeran utama di tulisan kalong

  6. sigitstrife's Gravatar sigitstrife
    1 Mei 2013 - 15.53 | Permalink

    kenapa setannya gk kamu kasih bogem mentah,long?

    • Kalong no kitsune's Gravatar Kalong no kitsune
      1 Mei 2013 - 16.28 | Permalink

      Kan ga bisa ngeliat… *muka masem*

  7. dimas aryasetya's Gravatar dimas aryasetya
    1 Mei 2013 - 18.59 | Permalink

    kalong yg jail.

Tulis komentar (Komentar akan di update setiap 6 jam)


*